DCT-TOMPONG, Hijau
Terang, seperti itulah penampilan peritgaan di Desa Coppo Tompong. Pertigaan di
Desa Coppo Tompong Kota, kini telah dibanguni satu unit Tugu Kelapa. Tugu kelapa tersebut, telah
resmi dijadikan sebagai mascout di Desa Coppo Tompong, dari sekian banyak
alternatif yang telah direncanakan.
Mungkin, diantara kita ada yang bertanya
tanya, mengapa pohon kelapa? Mengapa bukan sebuah Tompong saja? Pertanyaan
seperti ini jelas akan terlintas dibeberapa benak orang yang melihat tugu
kelapa tersebut. Tugu Buah Tompong, tidak dijadikan sebuah icon, sebab pada
saat pencarian unit tersebut, yang tersedia di toko, hanyalah Unit pohon
Kelapa. Dari segi area, tugu poho kelapa, tidak terlalu membutuhkan size yang
luas. Karena sepeti yanng kita ketahui, bahwa pohon kelapa, memiliki bentuk
batang yang ramping.
Waktu pembuatan tugu pohon kelapa ini,
bila dihitung dari sejak pengadaan tugunya, menggunakan waktu sekitar empat
bulan lamanya. Waktu ini, diluar dari lamanya perencanaan. Pabila dihitung
sejak dibangunnya pondasinya, pengerjaan tersebut membutuhkan waktu sekitar dua
minggu. Waktu ini ditotalkan dari lamanya peletakan batu pertama dan jeda waktu
pengerjaan. Dan untuk pengerjaan tiang dan lampu hingga penyelesaiannya,
dibutuhkan waktu sekitar tiga malam lamanya. Waktu tersebut ditotalkan, dari
tiap malam dan jeda pengerjaanya.
Pengerjaan pondasi atau dasar dari tugu,
itu diserahkan pada tukang didaerah setempat. Pak makmur, memilih tukang dari
dalam daerah, sebab disamping memberikan lapangan pekerjaan untuk rakyatnya, di
Desa Coppo Tompong, juga memiliki tukang dan buruh bangunan yang handal. Untuk
tahap pengerajaan tiang dan tahap penyelsaiannya, tugu pohon kelapa tersebut,
dikerjakan oleh para pemuda Desa Coppo Topmpong (DCT), yang di koordinasi
langsung oleh Pak Makmur, sebagai Kepala Desa Saat ini.
“Macantik
si di!” uangkap ibu Syahida Rauf, saat melihat cahaya hijau terang, yang
kerlap kerlip dengan pondasi yang berwana pelangi. Dari sekian lama di
kerjakan, akhirnya tugu ini berdiri cantik pada Hari Sabtu (07/08/19), pada
tepatnya malam minggu pkl 23.50, dan kebetulan pula, menjadi menit – menit
perayaan Hari jadi salah satu pemuda dari DCT, yang turut mengerjakan Tugu
Tersebut. Pemuda tersebut, ialah Wawan Hendrawan, putra ke dua dari Beliau.
Waktu yanng bersejarah. Sungguh sebuah
tugu dan malam minggu yang bersejarah bukan? Walau demikian, tugu tetaplah jadi
di hari Sabtu, dan Wawan hendrawan perayaannya di Hari minggu. Jadi pada
dasarnya, Tugu tersebut, tetaplah icon Desa, bukan sebagai kado hari perayaan
seseorang. Dan juga jauh hari sebelum pengerjaan Tugu ini, memang tak ada niat
sedikitpun, untuk dimiliki perseorangan.





0 Comments